Laman

Selasa, 22 Agustus 2017

Motivator Indonesia, Motivator Indonesia Terbaik, Motivator Indonesia Asia

Motivator Indonesia, Motivator Indonesia Terbaik, Motivator Indonesia Asia


Ini Impianku, Mana Impianmu...


Motivator-Indonesia-Motivator-Indonesia Terbaik-Motivator-Indonesia-Asia
1. Media cetak & Online


Motivator-Indonesia-Motivator-Indonesia Terbaik-Motivator-Indonesia-Asia
2. Trading Perikanan
Motivator-Indonesia-Motivator-Indonesia Terbaik-Motivator-Indonesia-Asia
3. Sekolah Kreatif




Motivator Indonesia, Motivator Indonesia, Motivator Indonesia Asia

Motivator Indonesia, Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia Terbaik

Motivator Indonesia, Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia Terbaik 

Yoris Sebastian

Motivator-Indonesia-Motivator-Indonesia Asia-Motivator-Indonesia-Terbaik


Kalau disebut nama Yoris Sebastian, beberapa kata yang terlintas dikepala saya adalah kreatif, inovasi, muda, millennials, & anti-main stream. Hampir semua buku yoris sebastian sudah saya baca. Tamat! Kalaupun ada lagi, pasti langsung mau beli...hehehe

Buku-buku yoris selalu ringan dan gampang banget dicerna. Dan kalau diliat-liat dan dibandingi dengan buku-buku Indonesia lainnya, bukunya yoris selalu punya konsep dan nuansa baru. Mulai dari sketsa gambar yang dibuat dari smartphone sams**g-nya langsung, sampe ide buku yang ringan, sederhana, but somehow it's very important.

#KayaknyaGwBakalDibayarMahalAmaYorisKarenaPromosiinAbis-AbisanBukunya;p

Mendengar cerita dan baca buku yoris menghadirkan sesuatu yang esensial dalam hidup, yakni 'Harapan (hope)'. Sejatinya manusia memang paling butuh yang namanya harapan (hope). Harapan itu sendiri munculnya dari kreativitas dan keberanian berpikir out of box. Walaupun background yoris dulu hanya tamatan SMA tapi dia paling jago banget kasih kita banyak hal baru dan membuat kita 'mikir dan manggut-manggut'....yeah we agree with you bro!

Motivator Indonesia, Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia Terbaik

Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia, Motivator Indonesia Terbaik

Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia, Motivator Indonesia Terbaik


Rene Suhardono


Motivator-Indonesia-Asia-Motivator-Indonesia-Motivator-Indonesia-Terbaik

Saya pribadi sangat menyukai karya-karya Seorang Rene Suhardono. Buat saya Rene banyak banget kasih inspirasi untuk semua orang untuk percaya dengan bakat dan passionnya. Rene percaya bahwa setiap orang punya keunikan, talent dan memang ditakdirkan untuk menjalankan misi dalam hidupnya yang beda-beda, sesuai dengan apa yang sebenernya mereka bisa (good or maybe best on it).

Paling suka dengan tagline dia yang paling terkenal, passion without creation is nothing. Kalimat ini buat saya 'nonjok banget'. Pas pertama kali baca kalimat ini yang kepikiran adalah kita jangan sok jago, jangan menganggap diri kita hebat, dan punya bakat serta keahlian ini/itu, sebelum benar-benar membuktinya melalui sebuah karya nyata. Filosofi simple, nendang (bukan nonjok lagi), dan pastinya dalem. Secara gak langsung dia mau bilang, be a man of action not a man of talk. 

Saya 100% percaya bahwa orang dinilai bahwa dia mau menjadi seperti apa dari ucapannya, namun untuk mengetahui orang itu sebenarnya seperti apa harus dilihat dari karya dan apa yang sudah ia perbuat. 

Buat saya, rene inspiring dan apa yang disampeinnya nyampe, karena dia bicara dari hati dan bicara sesuatu yang sudah dia lakukan. Bravo Rene !!

Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia, Motivator Indonesia Terbaik

Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia Terbaik, Motivator Indonesia

Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia Terbaik, Motivator Indonesia


Papa, Aku Bangga Padamu

Sangat benarlah pribahasa yang mengatakan bahwa ”Dad, a son’s first hero and a daughter’s first love”Sosok seorang ayah, bagi siapapun pasti punya tempat tersendiri. Jikalau peran mama identik dengan kasih sayang, perhatian dan juga kelembutan. Figur papa justru hadir menunjukkan eksistensinya melalui keberanian, kepemimpinan dan tanggung jawab.

Motivator-Indonesia-Asia-Motivator-Indonesia-Terbaik-Motivator-Indonesia
Berbicara mengenai sejarah dan cerita masa kecilnya, ada satu cerita dari papa yang menarik dan selalu saya ingat sampai hari ini. Buat saya pribadi cerita ini cukup inspiring. Terkadang apabila mood saya sedang tidak bagus, dan rasa malas melanda, saya sering mengingat-ingat kembali cerita ini untuk sekedar menjadi obat ‘pembakar semangat’. Hal seperti ini terkadang diperlukan, sebab semangat manusia ibarat air laut, ada pasang-surutnya. Oleh karena ini tinggal tugas kitalah untuk pandai-pandai mengenali diri kita dan menemukan cara terbaik untuk membangkitkan motivasi saat terpuruk.

Papa sering sekali menceritakan bagaimana sejarah dan perjuangan keluarga beliau untuk maju dan merubah nasib. Hari ini kami tinggal sangat dekat dengan ibukota, yakni Bogor. Dahulu ceritanya berbeda jauh, papa dan keluarga berada di daerah cukup dalam di provinsi lampung. Kampung halaman papa berada di pesisir barat lampung yang merupakan jalur menuju bengkulu, Krui.

Untuk bisa akhirnya merantau dan sampai di pulau jawa butuh perjalanan darat yang cukup panjang dan juga tentunya kapal laut. Saat ini mungkin hanya butuh setengah hari untuk waktu tempuh krui-jakarta. Namun pada masa itu, butuh lebih dari sehari semalam waktu tempuhnya. Belum lagi kondisi jalanan yang belum semulus saat ini, dan frekuensi moda transportasi laut (kapal penumpang) masih tergolong sedikit. Pesawat? lupakanlah. Harga tiket pesawat saat itu masih sangat tinggi dan hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menggunakan moda transportasi ini. Jangan dibayangkan harga tiket pesawat yang kompetitif seperti saat ini, dimana banyak airline menerapkan konsep low cost carrier. Situasi dulu sungguh berbeda.

Saat papa bercerita mengenai hal ini, nada suaranya mendadak menjadi sedikit lebih rendah dari biasanya. Intonasi cenderung datar dan lebih lambat. Dari setiap kata yang keluar, saya bisa merasakan kesedihan dan penderitaan dalam kisahnya. Pasca kemerdekaan dan orde lama, Indonesia mengalami masa resisi ekonomi. Bukan saja inflasi yang menyebabkan harga barang terus melambung tinggi. Namun lebih parah lagi, pada masa itu sempat terjadi pemotongan nilai mata uang oleh pemerintah.

Kala itu, Datuk (begitu cara kami cucunya memanggil kakek), sempat hampir gila. Mengapa demikian? sebab datuk baru saja menjual aset berharga satu-satunya yang ia miliki, yakni kebun yang biasa ia rawat dan kelola untuk menghidupi keluarga. Kebun itu akhirnya dijual agar anak-anaknya dapat melanjutkan sekolah. Diluar dugaan musibah menimpa. Tidak berapa lama setelah datuk melepas tanahnya, pemerintah menerapkan kebijakan pemotongan nilai mata uang rupiah. Hari itu juga uang yang dipegang atau disimpan langsung mengalami penurunan nilai seketika. Mereka yang beruntung adalah yang sedikit memegang uang cash dan lebih banyak mempunyai aset fisik (tanah, rumah, dll) karena nilainya tidak turun, bahkan cenderung naik. 

Alangkah malangnya datuk dan keluarga saat itu, niat baik menjual aset untuk menyambung biaya sekolah anak-anaknya seakan-akan menjadi kesalahan dan penyesalan terbesar dalam hidupnya. Malkumlah saat itu informasi belum secanggih saat ini. Datuk sama sekali tidak mengetahui informasi dan rencana pemerintah ini. Boleh jadi karena pengetahuan beliau yang relatif minim karena tidak lama mengenyam pendidikan. Belum lagi saat itu informasi adalah sesuatu yang mewah dan mahal. Bisa dikatakan saat itu alat komunikasi yang hampir merata hanya radio. Pemilik televisi pun mungkin masih ‘bisa dihitung dengan jari’. Dapat dibayangkan pada masa itu informasi alakadarnya, sehingga dapat hampir dipastikan orang-orang yang ada di pelosok daerah terlambat menerima berita dari pusat. Belum lagi posisi datuk yang rutin ada di ladang garapan, membuat informasi luar menjadi sesuatu yang langka. Miris ! 

Dalam berkisah tampak jelas mata dan tatapa papa menjadi lebih sendu. Bagaimana kerasnya kehidupan berladang. Dahulu apabila datuk ke kebun bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Menetap disana, tidak pulang ke rumah. Ada kalanya Sang datuk masuk kebun seorang diri dengan hanya bermodalkan sebuah golok untuk menjaga diri sekaligus sebagai untuk alat berkebun. 

Ada kalanya pula datuk mengajak serta satu atau dua anak laki-lakinya untuk membantunya berkebun. Papaku adalah salah satu yang kerap diajak berkebun. Ditengah kebun, praktis kita hanya seorang diri dan hanya ditemani lampu kecil sebagai penerangan. Biasanya orang yang berkebun mempunyai kebiasaan memelihara beberapa ekor anjing guna menjaga kebun baik dari gangguan bintang liar maupun orang yang mempunyai niat tidak baik. 

Semakin lama saya mendengar cerita ini, semakin detail, semakin tergambar bagaimana perasaan dan hati datuk yang hancur kala itu. Keluarga berduka hari itu. Semua kebingungan bercampur panik. Papa yang bernama lengkap Irawan Ridwan, merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara (lima orang laki-laki termasuk papa dan dua orang perempuan). Waktu itu Irawan belum lama menamatkan pendidikan SMA-nya. Namun tidak terbayang akan seperti apa masa depan dikemudian hari. Semua nampak gelap. Suram!

Setelah beberapa waktu merenung dan berdiskusi dengan beberapa anggota keluarga, papa bersama salah seorang kakaknya yang bernama Amir, memutuskan untuk merantau ke pulau jawa dengan tujuan kotanya adalah Bogor. Pertimbangannya sederhana, disana ada beberapa kerabat yang mungkin bersedia menampung mereka sebelum mereka memperoleh pekerjaan tetap. Dengan modal keberanian dan diiringi doa restu orang tua mereka berangkat. Merantau!

Kehidupan di kota jauh berbeda dengan di kampung. Irawan yang saat itu bermodalkan ijazah SMA mencari kerja serabut. Apa saja asal halal dan bisa bertahan hidup. Dari bekerja sebagai timer di sekitar biasa angkutan kota (angkot) mencari penumpang, sampai menjadi buruh pabrik obat pun dilakoni untuk menyambung hidup. Kebetulan saat itu fisik Irawan muda memang masih sangat mendukung untuk pekerjaan kasar dan mengandalkan aktivitas fisik. 

Awan hitam mulai berangsur-angsur hilang dan diganti sang mentari. Hidup terus berputar dan memberi harapan bagi mereka yang tidak menyerah. Waktu itu ada kesempatan untuk bisa menjadi PNS di salah satu Instansi departemen Kehakiman, yakni Imigrasi. Saat mendengar informasi ini, papa dengan getol mencari informasi dan cara bagaimana agar bisa diterima. Maklum pada zaman itu, kompetensi/kemampuan bukanlah hal yang mutlak menjamin seseorang dapat memperoleh pekerjaan. Namun juga dibutuhkan relasi atau network untuk bisa mewujudkannya.

Kalau diibaratkan, network itu seperti ‘kendaraan yang membawa kita dari satu pintu ke pintu lain’. Jadi network juga dapat diartikan sebagai sebuah kesempatan. Namun setelah sampai didepan pintu, kita harus mengetuk pintu dan menawarkan ‘Sesuatu’. Sesuatu yang kita tawarkan itulah ‘Kompetensi/Kemampuan’. Sehingga sangat tepatlah orang bijak mengatakan bahwa kesuksesan terjadi ketika ‘kesempatan bertemu dengan kemampuan’.

Ketika itu Irawan muda sadar bahwa komptensi/kemampuan setiap pelamar yang menjadi pesaingnya relatif sama, yakni pendidikan terakhir SMA. Hal yang mungkin menonjol dari diri Irawan adalah kemauan, semangat dan juga kekuatan fisik yang telatih karena pekerjaan serabutan yang dijalaninya sebelumnya. Tuntutan lingkungan pekerjaan yang berat di pabrik obat juga turut membentuk disiplin dan semangat juang irawan dalam bekerja. Namun Irawan sadar, hal-hal ini belum cukup kuat untuk bisa membuat dirinya diterima menjadi PNS. Irawan pun berpikir keras dan mencari ide bagaimana bisa menembus tes PNS dan diterima.

Binggo!! ada ide yang tiba-tiba melintas di kepalanya. Ia harus mencari tahu latar belakang dan asal usul para pejabat yang menentukan penerimaan pegawai di instansi tersebut. Informasi demi informasi terus digali dan disortir. Dari sekian banyak informasi yang didapat, hanya ada satu kemungkinan yang paling memungkinkan. Yakni ada salah seorang petinggi di Imigrasi yang juga berasal dari Lampung. Walaupun tidak berasal dari daerah yang sama di Lampung (krui), namun Irawan berharap faktor kesamaan provinsi sedikit banyak membuka jalan baginya untuk bisa berkomunikasi dan berinteraksi.

Hal ini sejatinya sungguh hal yang sederhana namun bisa dikategorikan brilian untuk seseorang yang datang dari daerah cukup jauh dan dengan latar belakang pendidikan seadanya. Mengapa? karena dalam membangun hubungan dan komunikasi dengan seseorang, hal pertama yang harus dilakukan adalah menciptakan sebanyak mungkin persamaan atau kerap disebut mirrorimg. Dengan adanya persamaan, maka dapat dipastikan komunikasi dua arah akan mudah terbangun.

Singkat cerita, nasib baik terus menaungi Irawan. Ia berhasil menjalin komunikasi yang baik dengan salah seorang pejabat tersebut. Dengan modal keberanian dan juga kesamaan latar belakang daerah, berhasil menjadi pintu masuk menggapai cita-cita menjadi PNS. Ini bukanlah sebuah contoh kolusi yang tidak fair dan penuh intrik, sebab irawan dalam proses rekrutmen tersebut juga terlebih dahulu harus melewati beberapa ujian tertulis dan tes fisik yang objektif. Cita-cita menjadi pelayan negara pun tercapai. Lewat pekerjaan inilah papa berhasil mengantar kami semua anaknya sampai bisa menyelesaikan kuliah. 

Papaku selalu berpesan kepada kami anak-anaknya dengan sebuah analogi yang cukup sederhana. “Jika dulu papa hanya hanya bisa jalan kaki, sekarang kalian telah pada berikan sepeda, motor dan bahkan mobil; oleh karena itu bergeraklah lebih cepat dan melangkahlah lebih jauh”




Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia Terbaik, Motivator Indonesia

Motivator Indonesia Terbaik, Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia

Motivator Indonesia Terbaik, Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia


Mama Paling Juara


Motivator-Indonesia-Terbaik-Motivator-Indonesia-Asia-Motivator-IndonesiaBukalah laptop anda, dan masuklah ke halaman Google. Segera lakukan pengetikan dengan kata kunci Mother. Maka anda akan menemukan 1,710,000,000 hasil dalam waktu 0,89 detik. Artinya apa? makna dari kata Mother atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutkan Ibu, Bunda, Mama, Umi, Mimih atau bahkan Ambu begitu Sakti’.

Siapapun dari kita, pasti akan bergetar hatinya ketika mendengar kata 'Mama'. Ada begitu banyak cerita, pengalaman, rasa yang tidak mudah kita ungkapkan. Setiap dari kita punya ceritanya sendiri. Cerita nan indah tentang sosok mama tidak untuk dibandingkan mana yang lebih menarik satu dengan yang lainnya. Cerita tentang mama bisa jadi sangat subjektif, namun satu hal yang pasti, cerita ini mempunyai kenangan tersendiri di relung hati setiap anaknya. 

Motivator-Indonesia-Terbaik-Motivator-Indonesia-Asia-Motivator-Indonesia

Elvia Haidar, begitu nama lengkap mamaku yang lahir 4 Juni 1960 silam di Jakarta. Walaupun beliau lahir di Ibukota, namun hati dan darah beliau adalah lampung asli. Hal ini tidaklah mengherankan, sejak kecil sampai mendekati remaja mama tinggal Krui sebelum melanjutkan SMA di Jakarta. Krui merupakan ibukota Kabupaten Pesisir Barat, dimana sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Lampung Barat (ibukota kabupatennya bernama Liwa) - wilayah yang sempat diguncang gempa bumi hebat pada 15 Februari 1994. Krui kini sudah menjadi kabupaten sendiri, dan terpisah secara administratif yang disahkan oleh pemerintah pusat pada Bulan April 2013 lalu. 

Krui hari ini terkenal dengan pantainya yang indah dan ombaknya yang menantang. Banyak dari wisatawan lokal dan terlebih mancanegara yang sudah sangat familiar dengan Krui. Wilayah ini merupakan surga untuk para peselancar yang biasanya dikenal dengan sebutan surfer. Bahkan ada komunitas surfer di Krui yang digawangi oleh penduduk lokal, dan sudah cukup terkenal. Komunitas ini bernama "Surfmatera", gabungan dari kata 'suft dan Sumatera'. 

Potensi hasil alamnya pun tidak kalah, sebut saja lada, cengkeh dan damar hanya sedikit dari hasil alam yang bisa didapatkan di sini. Sebagian besar dari penduduk asli Krui adalah masyarakat yang biasa berladang. Biasa hidup sendiri ditengah kepungan pohon (baca: hutan) dengan peralatan seadanya. Kondisi alam seperti inilah yang mungkin secara tidak langsung menjadikan mereka terbiasa dengan ‘kehidupan yang keras’. 

Jarak antar rumah di krui tidaklah serapat dan sepadat di Pulau Jawa. Dan jarak antar kampung (pekon) satu dengan kampung (pekon) lain juga relatif jauh. Lingkungan rumah yang berjauhan inilah yang mungkin menjadi alasan mengapa orang lampung biasa berbicara dengan suara lebih lantang dan keras dibandingkan dengan orang jawa. Karena apabila mereka bicara dengan lemah lembut seperti di Jawa, mungkin suara mereka sulit terdengar di hutan, kalah dengan suara ranting dan daun yang beradu satu sama lain. 

Motivator-Indonesia-Terbaik-Motivator-Indonesia-Asia-Motivator-Indonesia

Di krui inilah mamaku dibesarkan. Mamaku adalah anak kedua dari 7 bersaudara (Empat perempuan dan tiga saudara laki-laki). Datuk yang merupakan sebutan kakek dalam bahasa lampung bernama Haidar Munawar. Beliau dahulu bekerja di Laboratorium RSCM Jakarta sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Krui karena ayahandanya, Munawar Yahya, yang semakin tua dan mulai sakit-sakitan. Munawar yahya merupakan guru bahasa arab dan ahli fiqih di sana. Sebagian penduduk lokal di sana bahkan menganggap beliau sebagai alim ulama. Tidak jarang banyak penduduk lokal yang meminta bantuan kepada Munawar apabila mempunyai masalah atau ganguan baik fisik maupun non fisik. Mungkin latar belakang inilah yang membuat Elvia kecil mengenal dan terbiasa dengan lingkungan yang syarat nilai-nilai luhur islami. 

Andung yang merupakan sebutan nenek dalam bahasa lampung, bernama Arfah Bin Muhammad Dina. Beliaulah yang mengajarkan tentang arti kerja keras dan bagaimana menghargai uang. Keseharian andung adalah seorang penjahit yang menerima banyak pesanan pakaian dari tentangga maupun pakaian yang sengaja dibuat untuk dijual kembali kepada warga sekitar. Selain itu membuat kue juga merupakan keseharian kegiatan Andung dalam mendukung ekonomi datuk yang sekembalinya ke kampung bermatapencaharian sebagai 'Mantri'. Menjadi mantri kampung bermodalkan pengetahuan saat bekerja di RSCM dengan peralatan seadanya dan sedikit obat-obatan. Niatnya tulus, mengobati dan menolong warga sekitar dengan ditemani sepeda ontelnya. Tidak kurang, tidak lebih.

Kegemaran membuat kue yang dilakukan Andung Arfah merupakan hobi sekaligus juga kebutuhan. Beragam kue tradisional dibuat oleh andung, mulai dari kue lapis, roti kampung, empek-empek, dan bahkan kerupuk. Setelah kue selesai dibuat, Elvia kecillah yang biasa mengantarkan kue-kue untuk dititip di beberapa sekolah yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Sebagian tidak hanya dititipkan, namun harus dijajakan dan dijual langsung kepada teman sebada dan tetangga sekitar rumah. Singkat cerita, kehidupan kecil mamaku sederhana dan bersahaja namun syarat makna.

Setelah menghabiskan masa kecil sampai awal masa SMA di Krui, mamaku meneruskan studi di Jakarta. Entah atas kemauan sendiri atau permintaan dari orang tua, akhirnya mamaku bersedia meninggalkan kampung halaman. Kal itu mama mengambil Sekolah perawat SPR (Sekolah Pengatur Rawat) di Kesdam 5 Jaya yang berlokasi di Jalan Kenari, Jakarta. Mungkin latar belakang datuk yang bekerja didunia kesehatan mendorongnya mengambil jalur pendidikan ini. 

Sesekali mama kembali ke Krui, biasanya itu pun saat liburan hari raya. Hanya beberapa hari saja, tidak lama. Benarlah yang dikatakan bahwa ‘Jodoh hanya Tuhan yang tahu’, justru saat liburan inilah mama bertemu dengan Irawan Ridwan, yang akhirnya menjadi suaminya.

Setelah mama menikah dengan papa pada awal tahun 1980, praktis mama menjadi full time mother, istilah kerennya hari ini. Dahulu papa bercerita kepada kami anak-anaknya, bahwa setelah menikah memang papa meminta secara khusus agar mama berhenti bekerja sebagai perawat. Sehingga praktis sejak saat itu, tugas mencari nafkah semua ada dipundak papa, berbagi peran dengan mama yang menangani masalah rumah tangga dan anak-anak. 

Dalam perjalanan berumahtangga, dengan setia mama mendampingi papa yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu Instansi di Kementerian Hukum dan Ham, dahulu namanya kementerian Kehakiman. Sebagai PNS, berpindah-pindah daerah (mutasi) adalah bagian dari tuntutan pekerjaan. Mama selalu siap mendampingi papa dan memulai kehidupan yang baru di setiap daerah dimana papa ditugaskan. Mulai dari Bali, Lhoksemawe-Aceh, Tangerang, Banjarmasin, Palembang, Yogyakarta, Medan, Sumbawa-NTB dan sampai Riau. 

Karena kebiasaan berpindah tugas ini sehingga menjadikan kami empat bersaudara mempunyai tempat lahir yang berbeda-beda. Kakak perempuan saya lahir di Bogor, sedangkan saya lahir di Lhokseumawe Aceh yang dulu terkenal dengan perusahaan besarnya, mobil Oil. Dua adik saya yang lain lahir di Tangerang dan Banjarmasin. Kami bersaudara relatif mudah bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan baru, mungkin karena mungkin berpindah-pindah adalah sesuatu yang lumrah kala itu. Kami kerap gonta-ganti sekolah. Bagian tidak enaknya adalah saat kami mulai kerasan di suatu tempat dan akrab dengan teman sepermainan, terkadang kami harus siap pindah ke kota lain. Walaupun relatif masih kecil, kami sudah harus bisa move one, kalau meminjam kata-kata anak zaman sekarang.

Buat anak seumur kami yang relatif masih kecil, pindah rumah dan pindah kota mungkin lebih banyak senangnya daripada sedihnya. Tidak pernah terbayangkan kesulitan orang tua, khususnya mama yang memulai semuanya lagi dari awal. Berpindah tempat berarti juga berganti suasana dan lingkungan baru. Adaptasi lagi dengan semuanya. Bukan untuk satu atau dua malam, namun paling tidak untuk tiga sampai lima tahun menetap di setiap daerah. Tidak bisa mengatakan 'tidak' apabila tidak kerasan di suatu daerah. Tidak boleh juga mengatakan 'menyerah' apabila letih dan penat mulai terasa.

Mungkin tidak semua tempat dapat saya ceritakan dan gambarkan tentang bagaimana perjuangan mama. Boleh jadi karena usia saya yang masih terlalu kecil kala itu. Boleh jadi pikiran kami para anak-anak yang belum sempurna mencerna semuanya. Biasanya memang kita mulai bisa mengingat-ingat kejadian masa kecil sejak usia tiga sampai lima tahun. Mungkin itupun hanya samar-samar. 

Menjadi saksi hidup perjuangan mama mungkin paling saya ingat saat kami sekeluarga pindah dari Tangerang ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pindah ke luar pulau jawa menuju pulau yang konon katanya masih banyak hutan dan dihuni oleh orang dayak. Begitu kira-kira jokes dari pada tetangga kami di sekitar rumah. Kalimantan Selatan terkenal dengan tanahnya yang berjenis gambut. Sangat sulit untuk masyarakat di daerah ini untuk mendirikan rumah permanen dari beton. Penyebabnya tidak lain karena biayanya yang mahal sebab tanah di sana mayoritas adalah rawa dan berair. 

Karena orang tua kami bekerja sebagai PNS, maka mau tidak mau dan suka tidak suka kami harus menempati rumah dinas yang sudah disediakan. Rumah dinas kami merupakan 'rumah panggung’ yang mayoritas berbahan dasar dari kayu tahan air (kayu ulin) dan sedikit dikombinasikan dengan beton maupun triplek. Begitulah gambaran rumah kami di Banjarmasin. 

Motivator-Indonesia-Terbaik-Motivator-Indonesia-Asia-Motivator-Indonesia

Banjarmasin yang merupakan ibukota provinsi Kalimantan Selatan identik dengan sebutan 'kota seribu sungai'. Hampir di setiap jalan yang ada di Banjarmasin bersanding mesra dengan aliran sungai disampingnya. Ironisnya, walaupun banyak sungai di daerah ini, namun air bersih adalah sesuatu yang langka. Air PDAM tidak selalu mengalir setiap saat, hanya jam-jam tertentu air mengalir. Parahnya lagi, air biasanya mengalir saat tengah malam. Dimana mungkin sebagian besar dari kita sedang tertidur pulas. 

Pilihannya saat itu ada tiga buah. Pertama, menarik selimut dan melanjutkan tidur dengan konsekuensi esok harinya sulit mandi dan melakukan aktivitas lainnya. Kedua memilih bangun dengan gontai sambil mengisi air pada setiap drum, ember, panci, atau apapun wadah yang bisa menampung air. Ketiga, tetap bisa tidur dengan konsekuensi membeli air dari pedagang air keliling dengan harga per derigen relatif mahal kala itu. 

Kalau mengingat-ingat ini, rasanya hati terenyuh dan mata mulai memanas. Tidak tahu sudah berapa banyak keringat dan peluh mama yang keluar kala itu. Sungguh sulit dibayangkan, mama dengan tiga orang anak, plus satu anak masih di dalam kandungan harus menyelesaikan pekerjaan rumah seperti ini. Setiap malam, tanpa kenal libur. 

Kakak perempuan saya kala itu masih duduk dikelas empat SD, kira-kira umurnya masih 9 tahun. Tidak bisa dikategorikan sebagai anak yang sudah dewasa juga kala itu. Saya berumur dua tahun lebih muda (7 tahun), dan juga adik perempuan saya berumur 3 tahun. Praktis kami semua hanya menjadi tambahan kewajiban dan beban. Tanpa banyak bisa membantu. Praktis pada malam hari kami semua tertidur pulas setelah pagi hingga sore hari kami bersekolah.

 Mama menjalani ini dengan ikhlas dan hampir saya tidak pernah mendengar mama berkeluh kesah. Air hangat untuk kami mandi tidak pernah absen setiap pagi. Setiap saya meminta susu walaupun di malam hari, mama selalu siap sedia. (Fyi- saya adalah pencinta berat susu dan masih 'ngedot' mungkin sampai usia mendekati 10 tahun). Termasuk urusan antar-jemput sekolah, kalaupun mama tidak selalu datang ke sekolah kami, namun tukang becak langganan sudah siap didepan sekolah. Mama sudah mengurus ini semua. 

Itu mungkin hanya sepenggal kisah tentang bagaimana perjuangan seorang mama untuk anak-anak dan keluarganya. Masih banyak cerita dan kisah kehebatan mama yang tidak mungkin bisa diceritakan semua. Sebagian kisah syarat cinta mama mungkin tidak bisa kami ungkap karena boleh jadi saat itu kami memang belum cukup usia untuk mengerti kasih sayang mama untuk anak-anaknya yang tak bertepi. Namun cinta dan kasih sayang itu masih terasa dan membekas hingga hari ini. Hingga kami bisa seperti ini hari ini.

Hari ini, saat saya sudah berkeluarga dan dikaruniai 3 orang putri yang istimewa, saya sadar sepenuhnya bahwa menjadi seseorang seperti mama adalah sebuah pilihan hati dan panggilan jiwa. Menjadi full time mother dengan hari kerja 7 hari dalam seminggu plus 24 jam non stop, adalah sesuatu yang besar. 

Maafkan kami semua mama, karena boleh jadi sampai kapanpun kami tidak bisa membalas kasih sayangmu. Benarlah pepatah yang mengatakan bahwa “Seorang ibu merawat anaknya sambil berharap anakanya dewasa dan sukses; sedangkan seorang anak merawat ibunya hanya sambil menunggu kematiannya”


Ya Allah, Ampunilah hamba apabila mungkin hingga saat ini belum bisa maksimal berbuat kebaikan untuk orang tua kami. Jadikanlah kami anak-anak yang pandai berbakti kepada orang tua, sebab boleh jadi apa yang kami raih hari ini bukan karena hebatnya kami, namun karena doa-doa yang dipanjatkan oleh orang tua kami dalam setiap sujud shalat malamnya. Amin.



Motivator Indonesia Terbaik, Motivator Indonesia Asia, Motivator Indonesia

Motivator Indonesia, Motivator Indonesia Terbaik, Motivator Indonesia Asia

Motivator Indonesia , Motivator Indonesia Terbaik, Motivator Indonesia Asia Ini Impianku, Mana Impianmu... 1. Media cetak & ...